Sunday, May 29, 2016

Syekh Maulana Abu Ali Ahsan al Ba’qili bin Muhammad bin Muhammad bin Umar bin Mas’ud bin Ibrahim bin Abdullah bin Ali

Ziarah Syekh Tarekat Tijaniyah di Casablanca
Syekh Maulana Abu Ali Ahsan al Ba’qili bin Muhammad bin Muhammad bin Umar bin Mas’ud bin Ibrahim bin Abdullah bin Ali dilahirkan  pada awal abad ke-13 H di Desa Ikidhi-Maroko. Nasabnya berujung kepada sayyidina Hasan as Sibthi bin sayyidina Ali dan sayyidah Fatima az Zahra binti Rasulillah SAW.<>
Sedangkan Ba’qili merupakan nama suku yang berada di daerah selatan Maroko. Di usianya yang masih kecil (8 tahun) ayahnya meninggal dunia, mulai saat itulah saudara-saudaranya yang mencukupi keperluan beliau sehari-hari. Pada usia 14 tahun  telah hafal Al-Quran, yang kemudian melanjutkan menimba ilmu kepada para ulama di berbagai daerah Negara Matahari Terbenam tersebut, diantaranya di Qurawiyin-Fes, Medina Qasr Kabir, Medina Settat dan lainnya.
Pada tahun 1321, beliau memulai mempelajari ilmu Tasawuf, mulanya di bawah bimbingan Syekh Ali Masfayubi, dan kemudian berguru kepada Syekh al Qutb Husen al Ifrani (W. 1328 H) penulis kitab “Tiryaqu al Qulub min Adawai al Ghaflah wa ad Dzunub”, dari sinilah beliau memperoleh ijazah dan legalisasi sebagai Mursyid tarekat Tijaniyah secara mutlak dengan silsilah sanad keemasan yaitu Sidi Ahsan Ba’qili dari Syekh al Qutb Husen al Ifrani dari al Qutb Syekh Arobi bin Sayih (W. 1309 H) dari Syekh Ali at Tamasini (W. 1260 H) dari Sayyidina Maulana al Qutb Syekh Ahmad bin Muhammad at Tijani RA. dari Rasulullah SAW.
Kisahnya bertemu dengan Rasulullah diabadikan dalam kitabnya as Syurbu as Shafi, yang menceritakan bahwa kewaliannya berada di bawah telapak kaki Baginda Nabi SAW dan akan memperoleh derajat yang tinggi sebagai seorang Dai. Dituturkan pula oleh Syekh Muhammad bin Ahmad Alfa Hasyim al Futiy bahwasannya pada musim haji ia bertemu dengan Sidi Ahsan Ba’qili, seorang yang Alim, ahli Fiqih, ahli Hadits pada zamannya yang hafal 200 ribu hadits beserta sanadnya dan penulis produktif diberbagai disiplin ilmu.
Akhirnya dia pun kagum dan terpukau dengan beberapa pertanyaan yang dijawab Sidi Ahsan Ba’qili, diantaranya ialah Zawiyah itu seharusnya diatas maupun di bawahnya tidak ada bangunan lagi untuk tempat tinggal. Zawiyah adalah semacam musholla tempat mengamalkan tarekat. Demikianlah cerita keponakannya Syekh Umar Al-Futiy penulis kitab “Rimah” atau Rimahu Hizbi ar Rahim ala Nuhuri Hizbi ar Rajim.
Sidi Ahsan Ba’qili juga andil besar dalam penyebaran ajaran tarekat Tijaniyah, terbukti 1200 orang lebih yang telah beliau talqin. Disamping itu pula turut andil melalui dakwah dan tulisannya tentang hukum, keutamaan dan rahasia tarekat ini. Hasil buah tangannya mencapai puluhan kitab, namun yang paling masyhur di kalangan Tijaniyah ialah Iraah dan Sauqu al Asrar ila Hadrati as Syahidi as Sattar.
Adapun penerus perjuangannya yang kesohor antara lain ialah Syekh Ahmad bin Ali al Kasyti (W. 1374 H), putranya Sidi Muhammad Habib Abu Aqil (W. 1995 M), putranya Sidi Muhammad Kabir Ba’qili, Syekh Abdur Rahman Inezgane (W.1403 H), Syekh Muhammad Arobi bin Mahdi (yang berkunjung ke Indonesia pada bulan September 2013 lalu) dan Cucunya Ustadzah Zainab Abu Aqil yang eksistensi pola pikirnya bernafaskan al Ba’qili  dan lain-lain.
Pada tahun 1367 H, Beliau mulai terserang penyakit Hepatitis, yang ujungnya Beliau menghembuskan nafas terakhir untuk menghadap kehadirat Sang Khaliq pada malam jumat 10 Syawal 1368 H. Dahulu dimakamkan di daerah Oulad Ziyan, namun -subhanallah- ketika dipindah ke pemakaman Ghufron - Casablanca mayatnya utuh walaupun sudah bertahun-tahun.
Demikianlah biografi sang Mursyid yang peranannya sebagai Khalifah tarekat Tijaniyah. Semoga bermanfaat dan semoga para pembaca mendapat barokah dari ilmu beliau.

Ahmad Shohibul Muttaqin, alumni Universitas Ibn Tofail Kenitra – Maroko, mantan ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko 2011/2012, serta penganut tarekat Tijaniyah.

SUMBER : http://www.nu.or.id/post/read/51984/ziarah-syekh-tarekat-tijaniyah-di-casablanca

Pertemuan Muqoddam Tijaniyah Sedunia di Brebes, Serukan Perdamaian

www.nu.or.id
Pertemuan Mursyid Tijaniyah Sedunia di Brebes, Serukan Perdamaian
Brebes, NU Online
Muqoddam dan para guru tarekat Tijaniyah dari pelbagai belahan dunia hadir pada Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad At-Tijani sebagai peringatan ke-222 hari pengangkatan Syekh Tijani sebagai wali khatm. Pada acara yang berlangsung di pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Jatibarang, Brebes, Ahad (14/12), mereka menyerukan penduduk dunia untuk menebar kasih sayang sesame manusia dan juga kepada binatang.
<>
Tampak hadir pada peringatan ini Syekh Sayid Tohar (Maroko), Syekh Muhammad Al-Jakani (Maroko), Syekh Prof Umar Mas’ud (Sudan), Syekh Abdul Halim (India), Syekh Hasan Ibnu Muhammad Al-Jakkani (Maroko), Assyayidah (Hijaz), Assayyidah Ba Aziz Ehwan (London), Dr Mazlam Nawaei (Malaysia), dan Pavontum Mannil (India).

Syekh Wa’lah dari Al-Jazair mengajak para pengamal tarekat Tijaniyah agar selalu mengampanyekan perdamaian di muka bumi ini. Pasalnya, perdamaian ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah.

“Nabi telah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menebarkan kedamaian, cinta, dan menasehati demi kebaikan bersama,” tutur Wa’lah.

Ia menekankan penting persaudaraan. Pantang berdengki dan bermusuhan. “Jauhi permusuhan karena kita menjadi satu badan dalam satu Islam dan Tarekat Tijaniyah. Seperti penyebaran Islam dengan kedamaian demikian juga Tarekat Tijaniyah,” tandasnya.

Senada dengan itu, Prof Dr Rodi Genun dari Prancis menyatakan Tijaniyah selalu menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia tetapi juga kepada binatang. Kasih sayang menunjukan pada ketinggian ahlak seperti ahlak Nabi Muhammad SAW. “Ahlak Nabi bagai lautan tak bertepi, ahlak yang yang mulia,” tambahnya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengaku sangat bangga dan gembira karena Brebes telah kedatangan para ulama besar dari seluruh penjuru dunia. Kedatangan mereka diharapkan bisa menambah keteguhan hati masyarakat Brebes dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Muqaddam Tijaniyah KH Syekh Soleh Basalamah menjelaskan, peringatan yang diadakan setiap 18 Shafar ini, merupakan puncak ijtima’ kaum Tijaniyah seluruh Indonesia. Dilaksanakan bersifat nasional berdasar restu sesepuh muqaddam tingkat nasional. Sementara tempatnya bergiliran di tempat-tempat yang ada di Indonesia.

“Bagi Jatibarang, mendapatkan tiga kali giliran, 1984, 2008 dan 2014 ini,” imbuh Syekh Sholeh yang juga Pengasuh Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul. (Wasdiun/Alhafiz K)

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri yang melahirkan banyak santri

Tulisan ini begitu menarik yang kami ambil dari 
web NU www.nu.or.id
http://www.nu.or.id/o-images/imageContent.php?cl=nu_or_id&assets=pictures&cnt=post&type=big&files=145517196956bc2981c94c2.jpg
Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.

Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.

Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.

Mengembangkan Pesantren Buntet

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).

Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.

Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).

Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.

Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.

Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (_Netherlands Indies Civil Administration_). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.

Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.

Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang _psychokinesys_—yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)


Referensi:
Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.

_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.

Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.

Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.

Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.

Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.
sumber : http://www.nu.or.id/post/read/65684/kiai-abbas-buntet-kiai-sufi-pejuang-negeri

Saturday, January 23, 2016

TIPS TRIK BUAT WEBSITE FREE DOMAIN DAN HOSTING DENGAN MUDAH

Assalamualaikum sobatn NASHULLAH....udah lama  nggak On.
admin mau share sEbuah trik cara membuat website gratis sampai tuntas bener2 gratis.
tulisan ini awalnya kami share di blog kami yang lain. yaitu newaplikasi.blogdetik
kali ini tulisan tersebut akan kami pindah disini. dan saya yaqin tulisan ini nantinya akan bermanfaat buat kalian....because tulisan ini sudah pernah mendapat 5000 viewer setiap hari selama satu bulan...
LANGSUNG AJA DEH

Cara Membuat Website Gratis Domain+Hosting Gratis Lengkap Panduan

how to creat website with free hosting and domain .com .net .org .tv etc ?

ini jawabanya.





web ABI
web ABI

//Update 25 JANUARI 2016 //
SEBELUM ANDA MEMBACA LEBIH LANJUT MENGENAI CARA MEMBUAT WEBSITE ADMIN MENGINGATKAN KEPADA ANDA UNTUK TIDAK BERHENTI PADA PENDAFTARAN AKUN HOSTINGER SAJA…AKAN TETAPI ANDA HARUS MENGGUNAKAN KESEMPATAN ANDA UNTUK MEMBUAT HOSTING DAN DOMAIN GRATISAN ANDA…
LINK TUTORIAL MEMBUAT DOMAIN GRATIS DAN MENGINSTAL WEBSITE MENGGUNAKAN AUTO INSTALLER ADA DI BAWAH SETELAH ANDA BENAR2 MEMBACA DAN MEMAHAMI TATACARANYA DENGAN BAIK…SAYA JAMIN ANDA AKAN BISA MEMBUAT WEBSITE GRATIS DENGAN BAIK
A . Apakah Anda Sudah Pernah Membuat Suatu Website ?
= Belum ( Jika Belum )
B. Syarat Apa Saja yang dibutuhkan Untuk Cara Membuat Website Gratis ?
Jawab : Domain + Hosting
C. Apa Itu Domain dan Apa itu Hosting
Jawab.
Domain Adalah : Nama unik yang diberikan untuk mengenali nama server komputer seperti web server atau email server di internet. Domain memberikan kemudahkan pengguna di internet untuk melakukan akses ke server dan mengingat server yang dikunjungi dibandingan harus mengingat deretan nomor
Contoh : newaplikasi,com


2119ac028183da0563072718fb07e374_domain
2119ac028183da0563072718fb07e374_domain

Hosting Adalah : Jasa layanan internet yang menyediakan sumber daya server-server sehingga memungkinkan organisasi atau individu menempatkan informasi di internet berupa HTTP, FTP EMAIL atau DNS


hosting
hosting

Untuk Mudah dipahami
Ibarat Toko
( Domain Adalah Nama Toko & Hosting Adalah Ladang/Tanah Untuk Membuat Toko yang nantinya akan anda isi dengan barang/jasa yang akan anda Jual )
D. Apakah Domain dan Hosting Itu Harus Beli Atau Gratis ?
Jawab.
Pada dasarnya Domain dan Hosting Itu Berbayar/ disewakan Sekitar @150 Ribu per Tahun.
Akan Tetapi Ada Domain dan Hosting yang Gratis 100%
Kali ini saya akan Bocorkan Triknya.
Pertama :
Langsung Saja Mendaftar Hosting Terlebih Dahulu Disini (100% Gratis. ) Setelah anda mendaftar anda akan di pandu Operator untuk mendapatkan Domain (Nama Website anda) secara Gratis 100%
SEGERA BUAT HOSTING DAN DOMAIN ANDA SEBELUM DIGUNAKAN OLEH ORANG LAIN KARNA NAMA/DOMAIN TIDAK BISA SAMA, Misal anda ingin membuat Domain ( orangkaya,com) jika sudah ada yang mendaftar atau menggunakan Domain Tersebut anda tidak akan bisa membuat dengan nama tersebut karna sedunia hanya satu DAN tidak bakalan Kembar atau sama.
jadi Ayo Daftar
Cara Membuat Website Dengan Domain dan Hosting Gratis Lengkap Panduan, CARA MEMBUAT WEBSITE GRATIS, DOMAIN GRATIS, HOSTING GRATIS, APA ITU DOMAIN , APA ITU HOSTING, PANDUAN MEMBUAT WEBSITE GRATIS
Jika anda Menyukai informasi tentang Domain Dan Hosting Gratis Ini Mohon Like Facebook dan Tweet ya….Thanks . :-)

Thursday, March 6, 2014

Doa Ampuh Agar Mendapatkan Kemenangan Ketika Pemilu


Assalamu'alikum Wr. Wb.

doa ini mungkin sudah umum di kalangan masyarakat namun tidak banyak yang tau kalau salah satu fadhilahnya adalah dapat digunakan sebagai amalan Iktiyariyah ketika pemilu. baik pemilu caleg ataupun pemilu presiden.

doa ini dapat di amalkan setiap setelah melaksanakan sholat, khususnya setelah sholat hajat/ sholat tahajud.
lalu  berapa kali bilangan yang harus anda dibaca. ?
jawab = sebanyak banyaknya .
namun menurut hemat kami, jika anda benar benar ingin mengamalkannya... carilah ulama' /kiai yang dapat memberi izin khusus untuk mengamalkanya. ( di Gurukan )
hal itu akan sangat lebih ampuh di bandingkan tanpa Guru.

اَللَّهُمَّ ياَ غَنِىُّ  ياَحَمِيْدُ  يَامُبْدِئُ  يَامُعِيْدُ  يَارَحِيْمُ  يَاوَدُوْدُ يَافَعَّالُ لِمَا يُرِ يْدُ اَغْنِنِىْ بِحَلاَ لِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumma Yaa Ghoniyyu Yaa hamiid Yaa Mubdi’u Yaa Mu’iid Yaa Rohimu Yaa Waduud Yaa Fa’alu lima yuriid agnini bihalaalika, anharoomika wa bifadlika’amman siwaak.”
Artinya: “Ya Allah Tuhanku yang maha Kaya dan maha Terpuji, Tuhan yang menakdirkan dan yang mengembalikan, yang maha Kasih dan maha Kasih Sayang. Berilah aku kekayaan harta yang Engkau halalkan bukan yang engkau haramkan, berilah aku kelebihan dari yang lain dengan berkah karuniaMU.”
Tatacara mengamalkan:
Doa tersebut dibaca setiap selesai sholat Jumat sebanyak 70 kali. Jika diamalkan secara istiqomah insyaAllah tidak akan menjadi miskin dalam hidup.
Demikian amalan-amalan ilmu spiritual untuk menarik harta kekayaan. InsyaAllah apabila setiap bentuk usaha kita selalu diiringi dengan DOA maka Tuhan akan memberi rizki kepada kita semua dengan MUDAH dan BERKAH.
Semoga doa ini bisa bermanfaat bagi setiap orang yang mau mengamalkanya. amin

dan insya Allah kedepan akan saya tulis do'a doa lainya tentang Kepemimpinan agar jika salah satu dari kita sudah menjadi pemimpin , di beri kekuatan Allah dalam ketenangan Hati, dan terhindar dari perbuatan Dzolim
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
 

Tuesday, February 25, 2014

DOWNLOAD MUROTTAL ALQUR'AN 30 JUZ H. MUAMMAR ZA PER SURAT - PER JUZ


Assalamualaikum Wr. Wb.
dengan adanya link download murottal Al-qur'an 30 Juz ini semoga hal ini bisa bermanfaat
karena sesungguhnya dengan mendengarkan lantunan ayat ayat suci alqur'an saja Allah SWT. sudah memberikan kita pahala. lebih lebih jika kita dapat hafal beberapa ayat ayat Al-quran hanya karena sering mendengarkannya, sungguh keuntungan yang sangat besar untuk kita.. Subhanallah...
silahkan.

Download Murottal AlQur’an H. Muammar ZA. Per JUZ :

Mp3 Murottal Al-Qur’an 30 Juz H. Muammar Z.A
Juz Surah Size (MP3) Download
1 Al Fatihah (ayat 1)- Al Baqarah (Ayat 141) 22,23 KB Download
2 Al Baqarah (Ayat 142) – Al Baqarah (Ayat 252) 23.42 KB Download
3 Al Baqarah (Ayat 253) – Ali Imran ( Ayat 91) 23.10 KB Download
4 Ali Imran ( Ayat 92) – Annisa (Ayat 23) 21.20 KB Download
5 Annisa (Ayat 24) – Annisa (Ayat 147) 21.80 KB Download
6 Annisa (Ayat 148) – Al Maidah (Ayat 82) 22.70 KB Download
7 Al Maidah (Ayat 83) – Al An’am (Ayat 110) 24.56 KB Download
8 Al An’am (Ayat 111) – Al A’raf (Ayat 87) 24.85 KB Download
9 Al A’raf (Ayat 88) – Al Anfal (Ayat 40) 24.51 KB Download
10 Al Anfal (Ayat 41) – At Taubah (Ayat 93) 24.39 KB Download
11 At Taubah (Ayat 94) – Hud ( Ayat 5) 25.78 KB Download
12 Hud ( Ayat 6) – Yusuf ( Ayat 52) 23.68 KB Download
13 Yusuf ( Ayat 53) – Al Hijr ( Ayat 1) 24.88 KB Download
14 Al Hijr ( Ayat 2) – ANNahl (Ayat 128) 22.07 KB Download
15 AL Israa/Bani Israil (Ayat 1) – Al Kahfi (Ayat 74) 23.59 KB Download
16 Al Kahfi (Ayat 75) – Taha ( Ayat 135) 23.86 KB Download
17 Al Anbiya ( Ayat 1) – Al Hajj ( Ayat 78) 21.73 KB Download
18 Al Mu’minun (Ayat 1) – Al Furqan ( Ayat 20) 25.34 KB Download
19 Al Furqon ( Ayat 21) – AnNaml (Ayat 59) 25.20 KB Download
20 AnNaml (Ayat 60) – AlAnkabut (Ayat 44) 24.45 KB Download
21 AlAnkabut (Ayat 45)- Al Ahzab (Ayat 30) 25.46 KB Download
22 Al Ahzab (Ayat 31) – Yaasin (Ayat 21) 24.05 Kb Download
23 Yaasin (Ayat 22) – Az Zumar (Ayat 31) 24.32 KB Download
24 Az Zumar (Ayat 32) – Assajdah (Ayat 46) 23.55 KB Download
25 Assajdah (Ayat 47) – Al Jasiyah (Ayat 37) 24.41 KB Download
26 AlAhqaf (Ayat 1) – Az Zariyat (Ayat 30) 24.34 KB Download
27 Az Zariyat (Ayat 31) – Al Hadid (Ayat 29) 24.84 KB Download
28 Al Mujadilah (Ayat 1) – At Tahrim (Ayat 12) 24.60 KB Download
29 Al Mulk (Ayat 1) – Al Mursalat (Ayat 50) 24.53 KB Download
30 An Naba (Ayat 1) – AnNas (Ayat 6) 21.68 KB Download

Download Murottal AlQur’an H. Muammar ZA Per Surah :
  1. Surah an-Nas

    semoga bermanfaat amin.


Saturday, February 8, 2014

Syekh Ahmad Tijani RA. Pemegang Derajat Khatamul Auliya'



AL-Quthbi Al-Kamil
Khatmu Al-Auliyai Al-Maktum
Secara etimologi (bahasa), qutub berasal dari kata ط - ب - ق. Artinyabintang terindah. Sedangkan secara istilah, qutub adalah manusia terbaik yang mengumpulkan seluruh keutamaan. Baik dalam sifat kemanusiaan, ibadah dan kedekatannya dengan Alloh. Seorang qutub merupakan Khalifah Rasulillah SAW dalam menjaga keseimbangan alam.Setiap masa hanya ada satu orang kutub. Ibnu Hajar menjelaskan, kata abdal telah masyhur dalam sejumlah khabar dan qutub telah ditemukan dalam beberapa atsar. Sedangkan kata ghauts tidak ditemukan sumbernya. Jalaluddin As-Suyuthi telah mengetengahkan akan adanya qutub, autad dan abdal dalam kitabnya Al-Khabarud Dallu ‘Ala Wujudil Quthbi Wal Autadi Wan Nujabai Wal Abdalli. Keterangan ini menunjukkan adanya qutub. Berbeda dengan ghauts yang tidak ada penunjukkan. Hal ini berdasarkan pada hadits dan atsar yang ditemukan.
Adapun ghauts secara istilah adalah persamaan dari qutub. Ghauts merupakan sosok qutub yang sempurna (Al-Quthb Al-Kamil wa Al-Jami). Dari sini dapat dimengerti bahwa kemutlakan kata ghauts atas al-quthbu al-jami’ adalah istilah yang baru muncul di antara para wali. Berbeda denga kata qutub yang telah ditemukan dalam beberapa atsar. Kekhususan Al-Quthbu Al-Kamil wa Al-Jami ini sangat banyak. Di antaranya adalah mengetahui ismu Al-a’dham dengan seluruh bentuk, huruf, lafal, jumlah, tujuan dan waktunya. Sebagian dari ismu Al-a’dham ini ada yang boleh diijazahkan kepada beberapa orang sahabatnya dan ada pula yang tidak diperbolehkan. Karena besarnya anugerah, martabat lahir atau batinnya dan inti batinnya. Sebagaimana keterangan dalam Jawahirulma’ani, Kanzi Al-Muthlasam dan beberapa risalah Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani.
Al-Quthbu Al-Kamil wa Al-Jami mempunyai 366 dzat sesuai jumlah hari kabisat. Seperti telah diterangkan As-Sya’rani dari gurunya, Al-Khawas r.a. keterangan ini juga disampaikan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani r.a. dalam Jawahiru Al-Ma’ani.
Ibnu Asakir dan Al-Khatib telah mengutip keterangan dari Ubaidillah bin Muhammad Al-abbas, bahwa Al-kannani mengatakan, “Wali nuqaba berjumlah 300 orang. Wali nujaba berjumlah 70 orang. Wali abdal berjumlah 40 orang. Wali akhyar berjumlah 7 orang. Wali amal berjumlah 4 orang. Wali ghauts hanya seorang. Menurut Ibnu Khaldun, kedudukan qutub merupakan kedudukan tertinggi. Sebagian orang arif mengatakan bahwa Wali Qutub adalah seorang wali yang disinyalir dalam Hadits Ibnu Mas’ud, hatinya berada dalam hati Malaikat Israfil. Wali Qutub merupakan poros dan markas dari seluruh wali.
Imam jalaluddin As-Suyuthi telah meriwayatkan dari Ibnu Asakir dan Abu Nu’aim dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya Alloh juga mempunyai 40 orang di antara makhluk-Nya yang hatinya berada dalam hati Nabi Musa a.s. Alloh juga mempunyai 7 orang di antara makhluk-Nya yang hatinya berada dalam hati Nabi Ibrahim a.s. Alloh juga mempunyai 5 orang di antara makhluk-Nya yang hatinya berada dalam hati Malaikat Jibril a.s. Alloh juga mempunyai 3 orang di antara makhluk-Nya yang hatinya berada dalam hati Malaikat Mikail a.s. Alloh juga mempunyai satu orang di antara makhluk-Nya yang hatinya berada dalam Malaikat Israfil a.s. Jika yang seorang tersebut meninggal, maka Alloh SWT akan menggantikan kedudukannnya dari yang 3 orang. Jika yang 3 orang telah meninggal, maka Alloh SWT akan menggantikan kedudukannnya dari yang 5 orang. Jika yang 5 orang telah meninggal, maka Alloh SWT akan menggantikan kedudukannnya dari yang 7 orang. Jika yang 7 orang telah meninggal, maka Alloh SWT akan menggantikan kedudukannnya dari yang 40 orang. Jika yang 40 orang telah meninggal, maka Alloh SWT akan menggantikan kedudukannnya dari yang 300 orang. Jika yang 300 orang telah meninggal, maka Alloh SWT akan menggantikan kedudukannnya dari orang umum.
Dengan sebab merekalah Alloh menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuhan dan menolak bahaya.”
Shahibul Muniyah telah bersyair:


Dalam Bulan Muharam esok, akan muncul ghauts yang memberi petunjuk.
Yaitu khalifah dari al-muhaimin al-majid (Alloh).
Alloh telah memberikan kedudukan tersebut kepada guru kami di Arafah.
Seperti yang telah diceritakan oleh orang yang hak dan mengetahuinya.
Ghauts yang dimaksud adalah Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani. Karena pada Bulan Muharam tahun 1214 H. Rasululloh SAW telah mengukuhkannya sebagai Al-Quthub Al-Kamil, Al-Quthb Al-Jami’ dan Al-Quthb Al-Udzhma di Arafah. Seperti keterangan terdahulu.
Istilah “Khatmu Al-Auliya” memang  jarang dibicarakan. Istilah ini diperkenalkan pertama oleh seorang wali agung Muhammad bin Ali Al-Hakim At-Turmidzi (w. 255 H.) dalam kitabnya ‘Khatmu Al-Auliya’ (Penutup Para Wali). Selanjutnya, seorang wali quthub, yaitu Syeikh Ali bin Muhammad Wafat (w. 807 H.) mempertegas keberadaannya. Sehingga akhirnya, istilah ini muncul ke permukaan setelah pengarang “Futuhatul Makiyyah”, Syeikh Muhyidin Ibnu Arabi Al-Hatami mengungkapkannya secara khusus dalam sebuah kitab yang berjudul: “Anqaau Maghrib Fii Khatmi Al-Auliya Wa Syamsi Al-Maghrib” (Bumi Maroko: Penutup Para Wali dan Mataharinya).
Di antara beberapa wali yang agung pun ada yang mengklaim sebagai ‘Khotmu Al-Auliya’. Antara lain:
1. Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli, pengarang Dalailul Khairat.
2. Syeikh Ali bin Muhammad Wafa. Beliau mengatakan bahwa ayahnya, Muhammad Wafa adalah Khatmu Al-Auliya. Namun pernyataan ini dicabut kembali.
3. Syeikh Al-Fasyasyi.
4. Syeikh Muhyidin Ibnu Arabi Al-Hatami. Setelah Beliau bermimpi melihat Ka’bah yang dibangun dengan batu-bata emas dan perak. Hanya saja di puncaknya (antara rukun Yamani dan Syami, lebih condong ke rukun Syami) terlihat kuarng dua bata. Dalam mimpinya, Beliau memperhatikan hal tersebut. Dengan kesadarannya beliau menganggap bahwa dirinyalah penutup dan penyempurna bangunan Ka’bah. Setelah melalui penakwilan, Beliau menganggap telah mencapai Khatmu L-Auliya. Maka dengan riang gembira, beliau mengalunkan syair:

Dengan kamilah Alloh menutup wilayah.
Maka bermuaralahlah wilayah kepada kami.
Karena itu, tidak ada khotam bagi orang setelah diriku.
Tiada keberuntungan dengan khotam bagi umat Muhammad.
Dan ilmunya kecuali diriku seorang.
Ketika sedang bersyair, Beliau mendengar bisikan:

“Apa yang kau duga dan harapkan bukan milikmu. Itu adalah milik seorang wali di akhir zaman. Tidak ada wali yang lebih mulia di sisi Alloh SWT melebihinya.” Akhirnya Beliau berkata, “Kuserahkan urusan ini kepada yang menciptakan dan mewujudkan.”
Dengan pernyataannya ini, secara langsung Syeikh Muhyiddin bin Arabi Al-Hatami telah mencabut klaimnya sebagai Khatmu Al-Auliya. Dalam arti sebagai khatmu Al-Auliya Al-kubra.
Oleh karena itulah, Beliau mengarang Kitab Anqaa-u Maghrib Fii Khatmi Al-Auliya Wa Syamsi Al-Maghrib (Bumi Maroko: Penutup Para Wali dan Mataharinya). Kitab ini telah dicetak dan disebarluaskan.
Sejak saat itu sampai abad ke-12 hijriyah tidak terdengar kembali adanya seorang wali yang mengklaim sebagai Khatmu Al-Auliya. Sehingga muncul Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani.
Dalam Futuhatul Makiyah, Syeikh Muhyiddin Ibnu Arabi Al-Hatami memberikan keterangan tentang identitas Khatmu Al-Auliya. Beliau mengatakan, “Saya telah berjumpa dengannya (Khatmul Auliyail Muhammadi) secara barzakhiyah pada tahun 595 H. Saya melihat tanda yang disembunyikan Alloh dari hamba – hamba-Nya. Dia berada di Fas, Maroko. Saya melihat tanda Khatmul Auliyail Muhammadi darinya. Dia akan mendapat banyak cobaan karena banyak ilmu-ilmu robbani (ketuhanan) yang mendalam.
6. Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani. Adalah seorang waliyulloh yang agung dengan predikat Al-Quthbaniyatul Udzma Al-Kamil Al-Jami’. Beliau telah dikukuhkan sebagai Khatm Al-Auliya oleh Rasululloh SAW secara langsung.
Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani mengatakan bahwa Sayid Al-Wujud (Rasululloh SAW) telah mengabarkan kepadanya dalam keadaan jaga bahwa dirinya adalah Al-Khatim Al-Muhammadi yang telah diketahui seluruh wali kutub dan shidiqin. Bahwa tidak ada lagi maqam di atasnya dalam persoalan samudra Ma’rifat Billah.
Beliau juga mengatakan, “Sayid Al-Wujud (Rasululloh SAW) telah memberitahukan kepadaku bahwa sesungguhnya diriku adalah Al-Quthb Al-Maktum darinya dengan musyafahah (berhadapan) dalam keadaan jaga, bukan dalam keadaan tidur.”
Ketika diajukan pertanyaan kepada Syeikh Ahmad At-Tijani tentang, “Apakah arti Al-Maktum ?”. Beliau menjawab, “yaitu wali yang disembunyikan oleh Alloh SWT dari seluruh makhluk. Termasuk dari para malaikat dan para nabi. Kecuali kepada Rasululloh SAW. Rasululloh mengetahui dirinya dan keadaannya.”
Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata:


Saya adalah sayidul auliya seperti halnya Nabi Muhammad SAW adalah sayidul anbiya.
Dalam Ad-Durr Al-Mandhum, Beliau menegaskan posisinya dalam berbagai surat-suratnya kepada beberapa sahabatnya, “Sesungguhnya kedududkan kami di sisi Alloh di akhirat tidak dapat dicapai oleh seorang wali pun sejak berakhirnya masa sahabat sampai ditiupnya sangkakala. Tidak seorang wali pun yang dapat menyusul kedudukan kami atau mendekatinya. Karena memang sangat jauh dari beberapa tujuannya. Saya tidak berkata demikian kecuali setelah kudengar langsung secara hak dari Rasululloh SAW. Tidak ada seorang wali pun yang dapat memasukkan seluruh sahabatnya ke sorga tanpa hisab dan siksa, meskipun melakukan dosa dan maksiat kecuali hanya diriku. Dan Rasululloh SAW telah menanggung perkara mereka, yang tidak dapat kuterangkan. Perkara ini tidak dapat dilihat dan diketahui kecuali di akhirat. Bersamaan dengan ini semua, bukan berarti kami meremehkan kemuliaan sa-da-tu l-auliya. Kami pun tidak merendahkan keagungannya. Maka agungkanlah kemuliaan para wali yang hidup atau pun yang telah wafat. Sesungguhnya siapa yang mengagungkan kehormatan mereka, maka Alloh akan mengagungkan kehormatannya. Dan siapa yang merendahkan mereka, maka Alloh menghinakannya dan murka kepadanya. Janganlah kalian meremehkan kehormatan para wali.”
Pada kenyataannya, setiap wali yang pernah menyatakan dirinya Khatm Al-Auliya banyak yang mencabut kembali pernyataannya. Mereka yang telah menyatakannya pun hanya pada batas tertentu (wilayat Al-khusus). Bukan secara umum dan luas (a-mmah) dan menutup kewalian (dalam arti yang mencapai kedudukan sempurna) yang terakhir. Karena Khatmat Al-Kubra (kesempurnaan paripurna terbesar) hanya akan muncul di akhir zaman.
Di samping itu, maqam (kedudukan) Al-Khatmu adalah kedudukan yang sangat tinggi yang sulit untuk dicapai seseorang, kecuali telah sampai pada maqam (kedudukan) kutub. Sedangkan kutub sendiri merupakan kedudukan yang sangat tinggi. Dalam tiap zamannya, seorang wali kutub merupakan sosok yang mengumpulkan ahwal (beberapa kondisi kewalian), asrar (beberapa rahasia ketuhanan) dan karomah (beberapa kemuliaan perilaku) dari auliya dan arifin pada zaman tersebut. Akan tetapi, meskipun para kutub tersebut berserikat dalam pencapaian kedudukan ini, mereka berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan kekutubannya sesuai kadar masing-masing dalam pendakiannya. Sesuai urutan derajat yang mereka cakup dan kumpulkan.
Qutub tertinggi merupakan kedudukan termulia posisinya. Yaitu yang mencapai kedudukan Al-Khatmat Al-Ajall Al-Anfus (kesempurnaan jiwa tertinggi. Kedudukan inilah yang disebut dengan Al-Khatm Al-Maqom (penutup seluruh kedudukan) di antara orang-orang khos. Dalam Ad-Durr Al-Mandhum, pada bab Titimmatu s-sa-disah (penutup keenam), tentang kedudukan khatmah (penutup/pamungkas), Imam As-Sya’roni telah membicarakan kedudukan Al-Muhammadi. Bahwa kedudukan ini merupakan kedudukan yang tidak mungkin dicapai seseorang kecuali telah melewati 247.799 hijab. Dan ini tidak terjadi pada tiap wali.
Dalam Ar-Risalat Al-Mubarakah, Imam Asy-Sya’rani telah menerangkan ilmu-ilmu khos auliya. Bahwa beberapa ilmu tentang sifat-sifat khatim Al-auliya ada dalam tiap kurun dan akan ditutup oleh penutupnya yang terbesar (khatim Al-akbar). Seperti halnya Nabi Muhammad SAW telah menutup nabi-nabi sebelumnya. Khatim AL-Akbar yang menjadi penutup maqam Muhammadi tersebut, tidak lain adalah Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani. Sesuai penyampaian Rasululloh SAW. Kedudukan ini selanjutnya tidak akan pernah dicapai oleh seorang pun setelahnya. Seperti telah disampaikan oleh Sayyid Muhammad Al-Kansusi, salah seorang Khalifah At-Tijani.
Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani menerangkan tentang hakikat wilayah. Bahwa wilayah terbagi menjadi dua, yaitu: Wilayah ‘A-mmah (umum) dan Wilayah Khosh-shoh (khusus). Wilayah ‘a-mmah ialah wilayah sejak Nabi Adam a.s. sampai Nabi Isa a.s.. Sedangkan Wilayah Khosh-shoh ialah sejak Rasululloh Saw sampai Al-Khatmu (penutup). Arti dari khosh-shoh adalah wali yang berakhlak dengan akhlak Al-Hak yang berjumlah 300 akhlak secara sempurna. Sebagaimana sabdanya:

Sesungguhnya Alloh memiliki 300 akhlak. Siapa yang berakhlak dengan salah satunya, maka Alloh memasukkannya ke dalam sorga.
Akhlak Ilahiyah ini hanya terkumpul sempurna dalam diri Rasululloh SAW dan wali-wali kutub sebagai pewarisnya sampai Wali Qutub Penutup. Mereka dinamakan Al-Muhammadiyyiin. Secara hukum, kedudukan wali qutub penutup/Al-Khatmu merupakan hukum waris dari Nabi SAW kepada wali-wali qutub Al-Muhammadiyyin yang telah berakhlak dengan 300 akhlak Ilahiyah. Mereka adalah orang-orang besar golongan qutub ahli wilayah batin yang khos-shoh. Karena wilayah telah terbagi menjadi wilayah dlahir dan wilayah batin. Wilayah dlahir berkecimpung dalam pengaturan pemerintahan dan perkara lahir. Wilayah dlahir akan ditutup oleh Imam Mahdi L-Muntadhar yang akan muncul di akhir zaman.
Wilayah batin bergerak dalam pengaturan batin. Wilayah batin ini pun terbagi dua, yaitu wilayah‘a-mmah (umum) dan khosh-shoh (khusus). Wilayah ‘a-mmah ialah wilayah sejak Nabi Adam a.s. sampai Nabi Isa a.s. Sedangkan wilayah khosh-shoh ialah wilayah sejak Rasululloh SAW sampai Al-Khatm Al-Akbar (penutup qutub terbesar). Seluruh wali qutub yang telah idrak (menemukan) kedudukan Khatm Al-Quthbaniyah (kesempurnaan qutub) adalah Ahli Wilayah (Batin Khosh-shoh(. Tiap wali yang telah mencapai kedudukan khatmiyah (kesempurnaan) dinamakan wali khatam. Sehingga muncul Al-Khatm Al-Akbar yang akan menutup wilayah khosh-shoh sebagai puncaknya. Al-Khatm Al-Akbar hanya ada satu dalam satu zaman, yaitu sejak Nabi SAW. Di mana hatinya berada dalam hati Nabi Muhammad SAW.
Kedudukan khatm Al-auliya Al-kubra sebagai al-quthb Al-maktum merupakan kedudukan qutub terakhir yang disembunyikan Alloh SWT dari seluruh makhluk. Kecuali kepada Rasululloh SAW. Sepanjang catatan, tidak ada seorang wali pun yang mengklaim dirinya sebagai al-quthb Al-maktum. Sehingga muncul Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani. Dalam hal ini Beliau berkata:
 “Sayidul wujud (Rasululloh SAW) telah mengabarkan kepadaku bahwa sesungguhnya diriku adalah al-quthb al-maktum darinya dengan dengan musyafahah (berhadapan) dalam keadaan jaga, bukan dalam keadaan tidur.”
Ketika diajukan pertanyaan kepada Syeikh Ahmad At-Tijani tentang, “Apakah arti Al-Maktum ?” Beliau menjawab:

“Ialah seorang wali yang disembunyikan oleh Alloh SWT dari seluruh makhluk. Termasuk dari para malaikat dan para nabi. Kecuali kepada Rasululloh SAW. Rasululloh mengetahui dirinya dan keadaannya. Ia memperoleh tiap kesempurnaan ilahiyah yang ada pada seluruh wali”
Al-Maktum secara etimologi berasal dari ك – ت – م . Artinya yang dirahasiakan dan tersembunyi. Sedangkan al-maktu-m secara istilah, sebagimana dalam Bughyah: 147 adalah seorang wali kutub yang dirahasiakan dan disembunyikan sosoknya oleh Alloh SWT dari seluruh makhluk. Kecuali Rasululloh SAW. Pemilik kedudukan ini mutlak pilihan Alloh SWT.
Al-maktu-m adalah kedudukan yang sangat khusus dan tertinggi. Tidak ada kedudukan lagi di atasnya dari beberapa kedudukan arifin dan shidiqin kecuali kedudukan sahabat. Kedudukan suhbah (sahabat) merupakan kedudukan yang tidak dapat dilampaui keutamaannya kecuali oleh para nabi.
Dalam Al-Jami’ Lima Af-taraa Min Durari Al-‘Ulu-m Wal Fa-idhatu Min Bahri Al-Quthbi Al-Maktu-m, Sayid Muhammad bin Al-Misyri As-Saba-ihi, salah seorang khasanah rahasia Syeikh Ahmad At-Tijani menjelaskan: “Kesimpulannya adalah bahwa sebagaimana hakikat sosok Nabi Muhammad SAW yang hanya diketahui oleh Alloh SWT dan Nabi sendiri. Artinya tidak diketahui oleh seluruh nabi dan rasul lainnya. Demikian pula al-quthbu al-maktum. Hakikat sosoknya disembunyikan tidak diketahui oleh seorang pun kecuali Alloh SWT dan Rasululloh SAW. Dan Alloh memperlihatkan kepada pemiliknya. Tidak ada jalan kepada para wali lainnya melihat kedudukan tersebut.
Syeikh Muhyiddin bin Arobi Al-Hatam mengaku telah melihat kedudukan al-maktum dengan bashirahnya (mata hati), namanya, negaranya, tempatnya dan keadaannya. Tidak lebih dari itu. Karena selanjutnya, Beliau menyerahkan kembali urusan Al-khatimatu Al-Kubra Al-Muhammadi kepada Alloh SWT tidak memperdalam pembahasannya.
Kedudukan al-maktum itu diberikan oleh Rasululloh SAW kepada Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani. Dalam hal ini, Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani memperoleh tiga penobatan oleh Rasululloh SAW, yaitu:
1. Kedudukan Al-Quthbaniyah Al-Udzma (kutub terbesar). Yaitu pada awal-awal Muharrom 1214 H.
2. Kedudukan Khatimah Al-Muhammadiyah (penutup kewalian yang secara sempurna mengambil asror Nabi Muhammad SAW) pada hari yang sama.
3. Kedudukan Al-Katimah Al-Khash (wali khos yang tersembunyi). Yaitu pada tanggal 18 Shafar 1214.
Sebagian di antara keistimewaan kedudukan al-maktum adalah bahwa Al-Haq bertajalli 100.000 kali dalam kejap pertamanya. Di mana dalam satu tajalli diberikan 100.000 macam anugerah seperti yang diberikan kepada penduduk sorga. Kemudian dalam kejap selanjutnya diberikan kesabaran menghadapai beberapa tajalli-Nya. Demikian terus menerus tanpa ada batasnya.
Al-maktum juga merupakan sumber Faidh (cucuran rahmat) yang berupa Imdad (pertolongan) yang dilakukan oleh para qutub untuk seluruh alam semesta. Tanpa disadari karena adanya penghalang/hijab, para qutub telah mengambil perantaraannya dalam memberikan Faidh.Al-maktum memberikan Faidh Hakikatul Muhammadiyah kepada mereka dalam hidupnya. Nisbat para qutub dengan al-maktum adalah seperti nisbat orang umum kepada qutub sendiri. Karena kedudukan al-maktum dalam kegaibannya tidak diketahui oleh seorang pun. Baik di dunia, maupun di akhirat.
Dalam kesempurnaan kedudukannya tidak bisa dibandingkan dengan seluruh kedudukan lainnya. Seperti kedudukan Rasululloh SAW yang mencakup seluruh kedudukan kenabian. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikatul muhammadiyah kecuali Alloh SWT. Demikian pula al-maktum. Dia telah menjadi penolong pada seluruh wali dalam zaman dahulu dan zaman kemudian. Hakikatnya tidak dapat diketahui siapa pun, kecuali Alloh dan Rasululloh SAW.
Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani telah meminta kepada Rasululloh SAW untuk mengumpulkan seluruh Kedudukan qutbaniyah dan Fardaniyah. Rasululloh SAW mengabulkan permintaan tersebut dan menjaminnya. Sebagaimana yang disampaikan Abul Mawahib Al-Arabi bin Sa-ih. Kedudukan Fardaniyah merupakan kedudukan para shadiqin dan kenabian (di luar risalah) dan lainnya. Dalam arti dalam dirinya terkumpul segala hal yang telah dikhususkan untuk mereka. Bersamaan dengan itu melebihi mereka dari sisi lainnya. Yaitu dari sisi jami’nya.