Saturday, February 8, 2014

KHATAMUL AULIYA' PART 2


Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya’, yaitu para Wali : Ummahat, Aqthab; A’immah; Autad; Abdal; Nuqaba’; dan Nujaba’.

Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.? Ibnu Araby menjawab:

Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.
Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya'’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.
Wallahu A’lam bish-Shawab.

Ada cahaya yang memendar nun jauh di sana. Tak habis-habisnya mata memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan, hingga tiada sesaat pun melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita, terkadang seperti puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti sauh-sauh kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas harapan, padahal ia lebih dekat dari sanubari kita sendiri.
Tiba-tiba cahaya itu ada di depan mata hati kita. Ternyata sebuah gerbang keagungan yang dahsyat penuh kharisma. Gerbang itu seakan bicara: “Akulah gerbang para kekasih Tuhan”. Sejengkal saja kaki kita melangkah, memasuki pintu gerbang itu, seluruh kesadaran kita sirna dalam luapan gelombang cinta yang digerakkan oleh kedahsyatan angin kerinduan. Kata pertama yang berbunyi di sana adalah deretan puja dan puji:
“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut, tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan Jabarut-Nya.”

Lalu sebuah gerbang yang begitu agung dan indahnya, mengukirkan prasasti yang ditulis oleh Qalam Ruhani. “Segala Puja bagi Allah, yang telah membuka gerbang Cinta-Nya bagi para Kekasih-Nya. Lalu Dia mengurai rantai yang membelenggu jiwanya, sehingga mereka teguh dalam keharusan khidmah pada-Nya, sedangkan cahaya-cahaya-Nya melimpahi akal-akal mereka. Lalu tampak jelas, keajaiban-keajaiban kekuasaan-Nya, sedangkan kalbu-kalbu mereka terjaga dari haru biru tipudaya yang menumpah pada pesona-pesona cetak lahiriyah jagad semesta, sampai akhirnya menggapai ma’rifat paripurna. Amboi, ruh-ruh mereka tersingkapkan dari kemahasucian paripurna-Nya, dan sifat-sifat keagungan-Nya. Merekalah penempuh jalan hadirat-Nya, dalam kenikmatan rahasia kedekatan dengan-Nya, melalui tarekat dahsyat rindu dendam-Nya, hingga mereka termanifestasi dalam hakikat, melalui penyaksian Ketunggalan-Nya. Mereka telah diraih dari mereka, dan Dia menyirnakan mereka dari mereka, lalu mereka ditenggelamkan dalam lautan Kemaha-Dia-an-Nya. Dia memisahkan pasukan-pasukan terpencar dalam kesatuan kitab-Nya bagi para kekasih terpilih-Nya. Lalu mereka terjaga oleh kerahasiaan jiwa melalui limpahan cahaya-cahaya, agar ia menjadi obyek manifestasi, di samping ke-Tunggal-Dirian-Nya.”
Kalau saja kita ingin mengenal gerbang-gerbang Kekasih Allah itu, semata bukanlah hasrat dan ambisi untuk menjadi Kekasih-Nya. Sebab, mengangkat derajat seseorang menjadi Kekasih-Nya adalah Hak Allah, dan Allah sendiri yang memberi Wilayah itu kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.

Sekadar berkah atas cahaya kewalian dari kekasih-kekasih-Nya itu, sesungguhnya lebih dari cukup bagi kita. Sedangkan pengetahuan kita atas dunia kewalian yang menjadi bagian dari misteri-misteri Ilahi, tidak lebih dari limpahan-limpahan Ilahi, agar kita lebih yakin kepada-Nya atas keimanan kita selama ini.
Para Auliya Allah adalah Ahlullah. Mereka terpencar di muka bumi sebagai “tanda-tanda” Ilahiyah, dengan jumlah tertentu, dan tugas-tugas tertentu. Di antara mereka ada yang ditampakkan karamahnya, ada pula yang tidak ditampakkan sama sekali. Oleh karena itu hamba-hamba Allah yang diberi kehebatan luar biasa, tidak sama sekali disebut Waliyullah, dan belum tentu juga yang tidak memiliki kelebihan sama sekali, tidak mendapat derajat Wali Allah. Para Auliya adalah mereka yang senantiasa mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwanya dari kemaksiatan kepada Allah.
Di masyarakat kita, seringkali terjebak oleh fenomena-fenomena metafisikal yang begitu dahsyat yang muncul dari seseorang. Lalu masyarakat kita mengklaim bahwa orang tersebut tergolong Waliyullah. Padahal kata seorang syekh sufi, “Jika kalian melihat seseorang bisa terbang, bisa menembus batas geografis dengan cepat, bahkan bisa menembus waktu yang berlalu dan yang akan datang, janganlah Anda anggap itu seorang Wali Allah sepanjang ia tidak mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.“
Mengapa? Sebab ada ilmu-ilmu hikmah tertentu yang bisa dipelajari, agar seseorang memiliki kehebatan tertentu di luar batas ruang dan waktu, dan ironisnya ilmu demikian disebut sebagai Ilmu Karamah. Padahal karamah itu, adalah limpahan anugerah Ilahi, bukan karena usaha-usaha tertentu dari hamba Allah.
Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul karamah pada diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas kebenaran ibadahnya, kedudukan luhurnya, namun dengan syarat tetap berpijak pada perintah Nabi SAW. Jika tidak demikian, maka karamah hanyalah kehinaan syetan. Karena itu di antara orang-orang yang saleh ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain tahu. Ada pula yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang lain pun tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri tidak tahu.
Tetapi di belahan ummat Islam lain juga ada yang menolak konsep kewalian. Bahkan dengan mudah mengklaim yang disebut Auliya’ itu seakan-akan hanya derajat biasa dari derajat keimanan seseorang. Tentu saja, kelompok ini sama kelirunya dengan kelompok mereka yang menganggap seseorang, asal memiliki kehebatan, lalu disebut sebagai Waliyullah, apalagi jika orang itu dari kalangan kiai atau ulama.
Meluruskan pandangan Kewalian di khalayak ummat kita, memang sesuatu yang rumit. Ada ganjalan-ganjalan primordial dan psikologis, bahkan juga ganjalan intelektual.
Al-Quthub Abul Abbas al-Mursi, semoga Allah meridlainya, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, “Waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan ma’rifat-ma’rifat, sedangkan wilayah hakikat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
“Dasar utama perkara Wali itu,” kata Abul Abbas, “adalah merasa cukup bersama Allah, menerima Ilmu-Nya, dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath-Thalaq: 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (QS. Az-Zumar: 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al-‘Alaq :14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu Menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53).
Syekh Agung Abdul Halim Mahmud dalam memberikan catatan khusus mengenai Lathaiful Minan karya as-Sakandari mengupas panjang lebar mengenai Kewalian ini. Hal demikian dilakukan karena, as-Sakandari menulis kitab itu memulai tentang wacana Kewalian, karena memang, buku besar itu ingin mengupas tuntas tentang biografi dua Waliyullah terbesar sepanjang zaman, yaitu Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzili ra dan muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi.
Dalam sebuah ayat yang seringkali menjadi rujukan utama dunia Kewalian adalah: “Ingatlah bahwa sesungguhnya para Wali-wali Allah itu tidak punya rasa takut dan rasa gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa. Mereka mendapatkan kegembiraan dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi Kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)
Dalam salah satu hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan, “Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka benar-benar Aku izinkan orang itu untuk diperangi. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding apa yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku itu senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Maka bila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya di mana ia mendengar, dan menjadi matanya di mana ia melihat, dan menjadi tangannya di mana ia memukul, dan menjadi kakinya di mana ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Akupasti memberinya, jika ia memohon perlindungan kepadaKu Aku pasti melindunginya.”
Karenanya al-Hakim at-Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (Tanda-tanda Kewalian), yang di antaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan Tanda-tanda Kewalian itu. Beliau juga menulis kitab ‘Ilmul Auliya.

KHATAMUL AULIYA' PART 1



KHATAMUL AULIYA’

Imam at-Tairmidzy al-Hakim, seorang filosuf agung dan Sufi terbesar di zamannya pernah menulis tentang Khatamul Auliya’ (Pamungkas para wali), sebagai konsep mengembangkan pamungkas para Nabi (Khatimul Anbiya’).
Ibnu Araby dalam kitabnya yang paling komprehensif sepanjang zaman, Al-Futuhatul Makiyyah. Disanalah Ibnu Araby menjawab 155 pertanyaan dalam Khatamul Auliya’-nya At-Tirmidy. Dalam pertanyaan pertama berbunyi:

Berapakah Manazil (tempat pijakan ruhani) para Auliya’?

Ibnu Araby menjawab: Ketahuilah bahwa manazil Auliya’ ada dua macam. Pertama bersifat Inderawi (hissiyah) dan kedua bersifat Maknawy. Posisi pijakan ruhani (manzilah) yang bersifat inderawi, adalah syurga, walau pun di syurga itu ada seratus jumlah derajatnya. Sedangkan manzilah mereka di dunia yang bersifat inderawi adalah ahwal mereka yang seringkali melahirkan sesuatu yang luar biasa. Diantara mereka ada ditampakkan oleh Allah seperti Wali-wali Abdal dan sejenisnya. Ada juga yang tidak ditampakkan seperti kalangan Wali Malamatiyah serta para kaum ‘Arifin yang agung, jumlah pijakan mereka lebih dari 100 tempat pijakan ruhani. Setiap masing-masing tempat itu berkembang menjadi sekian tempat yang begitu banyak. Demikian pijakan ruhani mereka yang bersifat inderawi di dua alam (dunia dan akhirat).

Sedangkan yang bersifat Maknawy dalam dimensi-dimensi kema’rifatan, maka manzilah mereka 248 ribu tempat pijakan ruhani hakiki yang tidak dapat diraih oleh ummat-ummat sebelum Nabi kita Muhammad SAW, dengan rasa ruhani yang berbeda-beda, dan masing-masing rasa ruhani memiliki rasa yang spesial yang hanya diketahui oleh yang merasakan.

Jumlah tersebut tersari dalam empat maqamat: 1) Maqam Ilmu Ladunny, 2) Maqam Ilmu Nur, 3) Maqam Ilmu al-Jam’u dan at-Tafriqat, 4) Maqam Ilmu Al-Kitabah al-Ilahiyyah. Diantara Maqamat itu adalah maqam-amaqam Auliya’ yang terbagi dalam 100 ribu lebih maqam Auliya, dan masing-masing masih bercabang banyak, yang bisa dihitung, namun bukan pada tempatnya mengurai di sini.

Mengenai Ilmu Ladunny berhubungan dengan nunasa-nuansa

Ilahiyah dan sejumlah serapannya berupa Rahmat khusus. Sedangkan Ilmu Nur, tampak kekuatannya pada cakrawala ruhani paling luhur, ribuan Tahun Ilahiyah sebelum lahirnya Adam as. Sementara Ilmu Jam’ dan Tafriqah adalah Lautan Ilahiyah yang meliputi secara universal, dimana Lauhul Mahfudz sebagai abian dari Lautan itu. Dari situ pula melahirkan Akal Awal, dan seluruh cakrawala tertinggi mencerap darinya. Dan sekali lagi, para Auliya selain ummat ini tidak bisa mencerapnya. Namun diantara para Auliya’ ada yang mampu meraih secara keseluruhan ragam itu, seperti Abu Yazid al-Bisthamy, dan Sahl bin Abdullah, serta ada pula yang hanya meraih sebagian. Para Auliya’ di kalangan ummat ini dari perspektif pengetahuan ini ada hembusan ruh dalam lorong jiwanya, dan tak ada yang sempurna kecuali dari Auliya’ ummat ini sebagai pemuliaan dan pertolongan Allah kepada mereka, karena kedudukan agung Nabi mereka Sayyidina Muhammad SAW.
Di dalam pengetahuan tersebut tersembunyi rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya berada dalam tiga pijakan dasar ruhani pengetahuan:
1) Pengetahuan yang berhubungan dengan Ilahiyyah,
2) Pengetahuan yang berhubungan dengan ruh-ruh yang luhur, dan
3) Pengetahuan yang berhubungan dengan maujud-maujud semesta.

Yang berhubungan dengan ilmu ruh-ruh yang luhur menjadi beragam tanpa adanya kemustahilan kontradiktif. Sedangkan yang berhubungan dengan maujud alam beragam, dan memiliki kemustahilan dengan kontradiksi kemustahilannya.

Jika pengetahuan terbagi dalam tiga dasar utama itu, maka para Auliya’ juga terbagi dalam tiga lapisan: Lapisan Tengah (Ath-Thabaqatul Wustha), memiliki 123 ribu pijakan ruhani, dan 87 manzilah utama, yang menjadi sumber serapan dari masing-masing manzilah yang tidak bisa dibatasi, karena terjadinya interaksi satu sama lainnya, dan tidak ada yang meraih manfaatnya kecuali dengan Rasa Khusus. Sementara lapisan yang sisanya, (dua lapisan) muncul dengan pakaian kebesaran dan sarung keagungan. Hanya saja keduanya yang menggunakan sarung keagungan itu memiliki mazilah lebih dari 123 ribu itu. Sebab pakaian kebesaran merupakan penampakan dari AsmaNya Yang Maha Dzahir, sedangkan sarungnya adalah penampakan dari AsmaNya Yang Maha Batin. Yang Dzahir adalah asal tonggaknya, dan Yang Batin adalah karakter baru, dimana dengan kebaruannya muncullah pijakan-pijakan ruhani (manazil) ini.

Cabang senantiasa menjadi tempatnya buah. Maka apa yang ditemukan pada cabang itu merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam tonggaknya, yaitu buah. Walaupun dua cabang di atas itu munculnya dari satu tonggak utamanya yaitu AsdmaNya Yang Maha Dzahir, tetapi hukumnya berbeda. Ma’rifat kita kepada Tuhan, muncul setelah kita mengenal diri kita, sebab itu “Siapa yang kenal dirinya, kenal Tuhannya”. Walaupun wujud diri kita sesungguhnya merupakan cabang dari dari Wujug Rabb. Wujud Rabb adalah tonggal asal, dan wujud hamba adalah cabang belaka. Dalam Martabat bisa akan mendahului, sehingga bagiNya ada Nama Al-Awwal, dan dalam suatu martabat diakhirkan, sehingga ada Nama Yang Maha Akhir. Disatu sisi dihukumi sebagai Asal karena nisbat khusus, dan dilain sisi disehukumi sebagai Cabang karena nisbat yang lain. Inilah yang bisa dinalar oleh analisa akal. Sedangkan yang dirasakan oleh limpahan Ma’rifat Rasa, maka Dia adalah Dzahir dari segi bahwa Dia adalah Batin, dan Dia adalah Batin dari segi kenyataanNya Yang Dzahir, dan Awwal dari kenyataanNya adalah Akhir, demikian pula dalam Akhir.

Sedangkan jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah itu, ada356 sosok, yang mereka itu adala dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut thariqat kami dan yang muncul dari mukasyafah, maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah kami sebut diatas di awal bab ini, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada 1 orang, yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammady, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammady pada zaman ini (zaman Ibnu Araby, red), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), SAYA TAHU IA ADA DI FES (MAROKKO) TAHUN 595 H.


baca kelanjutan >>> KHATAMUL AULIYA' PART 2

Tuesday, December 3, 2013

DALIL-DALIL AL-QUR’AN DAN HADIST TENTANG KALIMAT THAYYIBAH

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Salam Sejahtera Saya sampaikan semoga para pembaca Blog.Nashullah senantiasa mendapatkan keberkahan  dari Allah SWT. Amin. 
dalam kesempatan ini saya akan mencoba membagi dalil dalil tentang Kalimat Thayyibah, yang mana Akhir2 ini ada sebagian orang yang salah mengartikan bahkan menentang tentang hal ini.
 
IMANIYAH
Iman menurut bahasa berarti mempercayai ucapan seseorang dengan penuh keyakinan dengan bersandar kepadanya. Dalam istilah agama, iman adalah mempercayai dengan penuh yaqin berita-berita Rasulullah SAW. tanpa melihatnya, semata-mata bersandar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ayat-Ayat Al-Qur’an
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلاَّ نُوْحِي ْاِلَيْهِ اَنَّهُ , لَا اِلَهَ اِلاَّ اَنَا فَاعْبُدُوْنِ
1.    Allah berfiman kepada Rasulullah SAW, “kami tidak mengirim sebelummu seorang Rasul, kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tiada tuhan selain-Ku, Maka sembahlah Aku” (Al-Anbiya’: 25)
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتّ عَلَيْهِمْ ءَايٰتُهُ زَادَتْهُمْ اِيْمَناً وَعَلىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
2.    Allah Berfirman, “ Orang-orang Mu’min adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah, maka hatinya akan takut. Dan apabila di bacakan ayat-ayat Allah niscaya Allah perkuat iman mereka dan hanyalah kepada Allah mereka bertawakkal” (Al-Anfal :2 )
فَاَمَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاّللهِ وَاعْتَصَمُوْا بِه فَسَيُدْخِلُهُمْ فِيْ رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيْهِمْ اِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا
3.    Allah berfirman, “ Barang siapa beriman kepada Allah dan memperbaiki hubungan kepada Allah, maka mereka akan di masukkan kedalam rahmat dan kurnia-Nya, Allah akan memperlihatkan jalan lurus yang akan menyampaikannya kepada Allah, ketika ia memerlukan petunjuk, maka Allah akan memberinya petunjuk.” (An-Nisa’ :175 )
اِنَّ لَنَنْصُرُ رُسُوْلَنَا وَالَّذِيْنَ امَنُوْا فِي الْحَيَاِة الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَٰدُ
4.    Allah berfirman, “ sesungguhnya kami akan menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang berimana dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). “ (Al-Mu’min : 51)
اَلَّذِيْنَ امَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا اِيْمٰنَهُمْ بِظُلْمٍ أُلٰئِكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ
5.    Allah berfirman, “Barang siapa beriman dan tidak mencampur adukkan keimanannya dengan syirik, maka wajib keamanan bagi mereka dan merekalah yang di beri hidayah”. (Al-An’am : 82)
وَالَّذِينَ اٰمَنُوْا اَشَدُّ حُبًّا لِلّٰهِ
6.    Allah berfirman, “ hanya orang-orang yang berimanlah yang mencintai Allah”. (Al-Baqarah : 165)
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
7.    Allah berfirman kepada Rasulullah SAW, “ Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya shalatku dan ibadahku dan hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Rabb Seluruh Alam.” (Al-An’am :162)



 
HADITS-HADITS NABI SAW

عن ابي هريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الاِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً, فَاَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا اَلٰهَ اِلَّا اللهُ , وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الْاَذٰى عَنِ الطَّرِيْقِ , وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْاِيْمَانِ (مسلم)
1.    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Iman itu (memiliki) lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ‘laa ilaha illallah’. Dan cabang yang terendah adalah menyingkirkan benda-benda yang menyakiti dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman (yang terpenting). “ (Muslim)
عن ابي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : َمنْ قَبِلَ مِنِّيْ الكَلِمَةَ الَّتِيْ عَرَضْتُ عَلىٰ عَمِّيْ فَرَدَّهَا عَلَيَّ فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ. (احمد)
2.    Dari Abu bakar shiddiq ra, Rasulullah SAW bersabda, “barang siapa menerima kalimat yang telah ku ajukan kepada pamanku (Abu Thalib, saat akan meninggal dunia) dan ia menolaknya, maka kalimat itu (akan menjadi sebab) keselamatan baginya”.(Ahmad)
عن اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : جَدِّدُوْا اِيْمَانَكُمْ , قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ! وَكَيْفَ نُجَدِّدُ اِيْمَنَنَا ؟ قَالَ : اَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لاَ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ . (احمد, طبراني – التغريب )
3.    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “perbaharuilah selalu iman kalian.” Para sahabat bertanya, “ya Rasulullah, bagaimana kami memperbaharui iman kami ?”. Beliau bersabda, “Perbanyaklah ucapan, “Laa ilaha illallah”. (Ahmad,Thabrani-At-Targhib)
عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : اَفْضَلُ الذِّكْرُ لَا اِلهَ اِلَّا اللهُ وَاَفْضَلُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ للهِ. (ترمذي)
4.    Jabir bin Abdullah ra, Meriwayatkan “Aku mendengar Rasulullah SAW.  Bersabda, “dzikir yang paling utama adalah “laa ilaha illallah” dan doa yang paling utama adalah “Alhamdulillah” (Tirmidzi)
Keterangan : “Laa ilaha illallah” disebut sebagai yang paling utama karena sumber dan Azaz keseluruhan agama terletak diatasnya. Tanpanya, iman tidak akan benar dan seorang tidak akan menjadi muslim.dan “Alhamdulillah” disebut sebagai doa yang paling utama, karena memuji kepada yang Mulia itu menunjukkan permintaan. Dan doa adalah suatu permintaan kepada Allah (Mazhahirul Haq)
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَا قَالَ عَبْدٌ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ قَطُّ مُخْلِصًا اِلَّا فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابَ السَّمَاءِ حَتّى تُفْضِيَ اِلى الْعَرْشِ مَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ . (ترمذي)
5.     Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. “apabila seorang hamba yang mengucapkan kalimat “laa ilaha illallah” dengan ikhlash, niscaya benar-benar akan di bukakan baginya pintu-pintu langit, sehingga kalimat itu akan langsung sampai ke arasy (langsung diterima oleh Allah) dengan syarat ia hindarkan diri dari dosa-dosa besar. (Tirmidzi)
Keterangan : mengucapkan dengan ikhlash adalah tanpa riya’dan nifak dan lebih utama ada gurunya yang membaiat dengan syarat agar “menghindarkan diri dari dosa” adalah untuk menjadi syarat maqbul-Nya amalan tsb. Namun jika dibaca dengan ada dosa besarpun tetap pada saat itu tidak kosong dari keuntungan dan pahala.
عن يَعْلى بْنِ شَدَّادِ قال : حَدَّثَنِيْ اَبِيْ شَدَّادٌ وَعٌبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رضي الله عنهما حَاضِرٌ يُّصَدِّقُهُ قال : كُنَّا عِنْدَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فقال : هَلْ فِيْكُمْ غَرِيْبٌ يَعْنِيْ اَهْلَ الْكِتَابِ ؟ قُلْنَا : لَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ! فَاَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ : اِرْفَعُوْا اَيْدِيَكُمْ وَقُوْلُوْا : لَا اِلَهَ اِلَّا الله , فَرَفَعْنَا اَيْدِيَنَا سَاعَةً ثُمَّ وَضَعَ صلى الله عليه وسلم يَدَهُ ثُمَّ قَالَ : اَلْحَمْدُ للهِ , اَللّٰهُمَّ اِنَّكَ بَعَثْتَنِيْ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَاَمَرْتَنِيْ بِهَا وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الْجَنَّةِ وَاِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِعَادُ , ثم قال : اَلاَ اَبْشِرُوْا فَاِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ. (احمد – مجمعوز زوائد)
6.    Ya’la bin saddad ra, meriwayatkan, “ayahku, syaddad telah menyampaikan kabar ini dari ‘ubadah yang hadir pada saat itu membenarkannya, ia berkata, “suatu ketika, kami berada di sisi nabi SAW. Beliau bertanya, “apakah ada orang asing (non muslim) di majlis ini ?” kami menjawab, “tiada seorangpun.” Beliau bersabda, “tutuplah pintu !” kemudian beliau bersabda, “Angkatlah tangan kalian, dan ucapkanlah “laa ilaha illallah”.” Kami pun mengangkat tangan sejenak (dan membaca kalimat thayyibah). Kemudian Rasulullah SAW menurunkan tangannya, dan berkata, “segala puji bagi Allah. Yaa Allah, engkau telah mengutusku dengan kalimat ini. Dan telah memerintah diriku (untuk mentablighkannya) dan telah menjajikan syurga atas kalimat ini. Dan sesungguhnya engkau tidak akan menyalahi janji.’ Lalu beliau berkata kepada kami, “bergembiralah Allah telah mengampuni kalian.” (Ahmad – Majma’uz Zawaid)
عن اَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ عَبْدٍ قال لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ ثُمَّ مَاتَ عَلى ذَالِكَ اِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ , قُلْتُ : وَاِنْ زَنى وَاِنْ شَرَقَ ؟ قَالَ : وَاِنْ زَنى وَاِنْ شَرَقَ, , قُلْتُ : وَاِنْ زَنى وَاِنْ شَرَقَ ؟ قَالَ : وَاِنْ زَنى وَاِنْ شَرَقَ, , قُلْتُ : وَاِنْ زَنى وَاِنْ شَرَقَ ؟ قَالَ : وَاِنْ زَنى وَاِنْ شَرَقَ عَلى رَغْمِ اَنْفِ اَبِيْ ذَرٍّ . (بخاري)
7.    Dari Abu Dzar ra, nabi SAW bersabda “tiada seorangpun hamba yangmengucapkan “laa ilaha ilallah”, kemudian maut menjemputnya, kecuali ia pasti masuk syurga. “aku bertanya, “walaupun ia berzina ?, walaupun ia mencuri ?” beliau bersabda, “Ya, walaupun ia berzina, walaupun ia mencuri.” Aku bertanya “walaupun ia berzina ? walaupun ia mencuri ?” beliau bersabda, “Ya, walaupun ia berzina, walaupun ia mencuri,” Aku bertanya “walaupun ia berzina ? walaupun ia mencuri ?” beliau bersabda, “Ya, walaupun ia berzina, walaupun ia mencuri,” walau kau tidak diterima, wahai Abu Dzar ia pasti akan masuk syurga (Bukhari)
Keterangan : Ucapan ‘ala raghmi adalah ucapan khusus dalam dialog  bahasa arab. Maksudnya, walaupun kamu tidak diterima hal ini, walaupun kamu tidak menghendaki tidak adanya, tetap hal itu akan terjadi.
Abu Dzar ra merasa heran, bagaimana mungkin seorang dapat masuk syurga dengan dosa-dosa besar ? padahal secara adil, ia seharusnya disisksa dulu atas dosa-dosanya. Oleh sebab itu, agar menghilangkan keheranannya, nabi Saw bersabda, “walau bagaimanapun Abu Dzar tidak terima, ia akan tetap masuk syurga. Sekarang, walaupun seandainya berapa banyak dosa ia lakukan, maka tuntutan keimannya, adalah ia akan bertaubat dan beristighfar, meminta maaf  kepada Allah, atau dengan karunia-Nya.  Allah akan memaafkannya tanpa disiksa sama sekali atau setelah ia di siksa atas dosa-dosanya. Bagaimanapun Allah pasti akan memasukkannya kedalam syurga.
Alim ‘Ulama menulis bahwa maksud mengucapkan kalimat  “laa ilaha illallah” dalam hadist di atas adalah beriman atas agama dan tauhid yang sempurna dan berusaha atasnya. (Ma’ariful Hadits).  

semoga coretan ini bermanfaat bagi kita yang membutuhkan, dan admin Blog.Nashullah Selalu Mengharap Kritik dan Saran dalam kolom komentar dari Ikhwan semua. 

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh